hasil kerja tergantung dari usaha begitulah kata pepatah tapi ada pengecualian yaitu keberuntungan atau hoki.
ini dia cara membedakan si hoki dan si sial:
Pertama, lebih terbuka terhadap
peluang. Si Untung lebih peka terhadap adanya peluang, pandai
menciptakan peluang, dan bertindak ketika peluang datang. Si Untung juga
memiliki sikap yang lebih rileks dan terbuka terhadap
pengalaman-pengalaman baru. Mereka lebih terbuka terhadap interaksi
dengan orang-orang yang baru dikenal. Si Malang lebih tegang sehingga
tertutup terhadap kemungkinan-kemungkinan baru.
Sebagai contoh, ketika Barnett Helzberg
seorang pemilik toko permata di New York hendak menjual toko
permatanya, tanpa disengaja sewaktu berjalan di depan Plaza Hotel, dia
mendengar seorang wanita memanggil pria di sebelahnya: “Mr. Buffet!”
Ini hanya kejadian sekilas yang mungkin akan dilewatkan kebanyakan orang yang kurang beruntung. Tapi Helzber secara reflek berpikir, mungkin pria di sebelahnya adalah Warren Buffet,
salah seorang investor terbesar di Amerika. Maka Helzberg langsung
menyapa pria itu, siapa tahu ia memang Warren Buffet. Ternyata betul!
Perkenalan pun terjadi dan setahun kemudian Buffet membeli jaringan toko
permata milik Helzberg. Oh, Barnett betul-betul beruntung!
Kedua, Si Untung bisa mengambil
keputusan yang baik tanpa berpikir panjang. Mereka pandai menggunakan
intuisi, sepertinya tahu kapan mengambil keputusan yang baik dan kepada
siapa ia harus percaya atau tidak percaya. Sementara sebaliknya, si
Malang justru cenderung berpikir rumit dan ragu mengambil keputusan.
Bagi si Untung, analisa angka-angka sangat membantu, tapi final decision
umumnya berasal dari intuisi yang baik. Yang barangkali sulit bagi si
Malang adalah bisikan hati nurani tadi akan kurang bisa didengar jika
otak pusing dengan penalaran yang tak berkesudahan. Makanya Si Untung
umumnya memiliki metoda untuk mempertajam intuisi mereka, misalnya
melalui meditasi yang teratur. Pada kondisi mental yang tenang, dan
pikiran yang jernih, intuisi akan lebih mudah diakses. Dan makin sering
digunakan, intuisi akan semakin tajam.
Ketiga, selalu berpikiran baik bahwa kebaikan pasti datang. Si Untung selalu ge-er
terhadap kehidupan. Mereka berprasangka baik bahwa kebaikan akan datang
kepadanya. Dengan sikap mental demikian, mereka lebih tahan terhadap
ujian, dan lebih positif dalam berinteraksi dengan orang lain. Coba saja
kita tanya ke si Untung, bagaimana prospek bisnis tahun depan. Seberapa
beratpun situasinya, si Untung akan menceritakan optimisme dan harapan.
Hal sebaliknya kalau kita tanya ke si Malang. Ia akan bicara tentang
kesulitan dan ancaman kesengsaraan. Yah, namanya juga si Malang.
Keempat, mengubah hal yang buruk
menjadi baik. Si Untung selalu bijak dalam menghadapi situasi buruk,
lantas merubahnya menjadi kebaikan. Bagi mereka setiap situasi selalu
ada sisi baiknya. Dalam salah satu tes nya Prof Wiseman meminta peserta
untuk membayangkan sedang pergi ke bank dan tiba-tiba bank tersebut
diserbu kawanan perampok bersenjata. Dan peserta diminta mengutarakan
reaksi mereka. Reaksi si Malang adalah: “wah sial
bener ada di tengah-tengah perampokan begitu”. Sementara reaksi Si
Untung, misalnya adalah, “ini sejarah hidup yang tak terlupakan, saya
bisa menuliskan pengalaman saya untuk media”. Apapun situasinya si Untung pokoknya untung terus.
Sementara si malang hanya bisa menggerutu dan meratap ketika menghadapi sebuah kejadian buruk.
Ada cara untuk merubah si Malang menjadi si Untung, yaitu dengan menjadi murid Prof Wiseman di Luck School. Di sekolah ini Wiseman memberikan tugas ke si Malang untuk membuat Luck Diary, buku harian keberuntungan. Setiap hari, si Malang harus mencatat hal-hal positif atau keberuntungan yang terjadi.
Mereka dilarang keras menuliskan
kesialan mereka. Awalnya terjadi kesulitan, tapi begitu mereka bisa
menuliskan satu keberuntungan, hari berikutnya semakin mudah dan semakin
banyak keberuntungan yg mereka tuliskan.
Ya, seperti juga kata motivator dunia Anthony Robbin, kita adalah sutradara bagi kehidupan kita sendiri. Semakin positif kita bereaksi, semakin baik pula jalan kehidupan kita. Demikian halnya dengan hukum pikiran Law of Attraction (Rhonda Byrne), bahwa segala hal yang terjadi berawal dari pikiran kita. Tak
jauh beda pula dengan kata pak Ustad, semakin kita pandai menyukuri
nikmat yang kita terima, Tuhan akan menambah (keberuntungan) lebih
banyak lagi.